IPNU Jatim Gelar Dialog Pendidikan, Siapkan Pelajar Tahun 2035

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) ke 62, Pimpinan Wilayah IPNU Jatim menggelar dialog Pendidikan  dengan tema peran IPNU dalam tantangan bonus demografi 2035. Rabu, (9/3/2016).

IPNU Jatim Gelar Dialog Pendidikan, Siapkan Pelajar Tahun 2035

Acara yang berlangsung di Aula Kertoraharjo PWNU Jawa Timur ini, selain dihadiri ratusan kader IPNU dari berbagai daerah di Jawa Timur, juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting di Jawa Timur, seperti Prof. Kacung Marijan, Ph.D guru besar Ilmu Politik UNAIR Surabaya, Drs. Supandi, M.Pd. Kepala Bidang Pendidikan Madrasah dan Prof. Akh. Muzakki Sekretaris PWNU Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Ketua IPNU Jawa Timur, Haikal Atiq Zamzami mengatakan, perlu adanya langkah-langkah  strategis di segmen pelajar, karena pelajar memiliki potensi yang luar biasa, baik potensi akademik maupun keterampilan.

“Sebagai organisasi pelajar, IPNU Jawa Timur akan berupaya mengelola potensi yang ada di kalangan pelajar untuk menyongsong masa depan di tahun 2035. Tentunya dengan kerjasama semua pihak,” ujar Haikal.

Haikal juga menyinggung soal gerakan radikal di kalangan pelajar, dimana menurutnya, sekolah menjadi sasaran yang empuk bagi paham radikalisme. Ini dikuatkan dengan hasil survei  yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesi  (LIPI) yang menunjukkan 21 persen  siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila sudah tidak lagi relevan digunakan, dan 84,8  persen  siswa  dan  76,2  persen  guru  lebih setuju  dengan  penerapan  syariat  Islam.

Senada dengan Prof. Muzakki yang mengungkapkan jumlah pelajar di Indonesia cukup besar dibanding dengan Negara-negara lain, kondisi ini menjadi potensi luar biasa dalam pembangunan bangsa. Tetapi jika hal itu tidak dikelola dengan baik maka akan menjadi mala petaka.

“Punya banyak pelajar harus mampu mengelola dengan baik, jika tidak dikelola maka bisa berubah menjadi petaka. Paham radikalisme akan mudah masuk ke sekolah yang dapat mengancam keamanan Negara puluhan tahun yang akan datang,” ungkapnya.

Prof. Muzakki menambahkan, karakter menjadi hal utama dalam diri seorang pelajar. Karena pinter saja tidak cukup, bila tidak diimbangi dengan karakter yang baik.

“Kalau pintar tapi tidak berkarakter, akibatnya keblinger. Dan sebaliknya, berkarakter tapi tidak pinter akibatnya tengar-tenger (bingung,red),” pungkasnya yang disambut tawa peserta.

Sementara Prof. Kacung Marijan mengatakan, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar harus diimbangi dengan Ilmu dan keterampilan. Kedua hal itu bisa didapatkan dari bangku sekolah. Siswa akan mendapatkan pendidikan dan pengarahan sesuai dengan bakat masing-masing siswa. Namun sayangnya, masyarakat Indonesia mayoritas berpendidikan  paling rendah SMP.

“Mayoritas pendidikan masyarakat Indonesia paling rendah SMP, ini menunjukkan sedikitnya orang yang menempuh pendidikan  ke jenjang yang lebih tinggi,” ujar mantan Dirjen Kemendikbud RI.

Ia berharap, IPNU sebagai salah satu organisasi yang bergerak di segmen pelajar bisa mewarnai dan mendongkrak jumlah pelajar yang berpendidikan dan berkarakter. (EP)

Leave a Reply