Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) Diharapkan Mampu Mendukung Penerapan Tehnologi Tepat Guna Untuk Daerah yang Sukar Dijangkau

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) tingkat nasional ke-7 tahun 2019 secara resmi di buka Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Mohamad Nasir di halaman Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Surabaya, Selasa (1/10/2019) malam.

Seperti disampaikan Ketua Panitia KRTI yang juga Dekan Fakultas Tehnik Unesa, Maspiah, KRTI yang akan digelar selama 6 hari (1–6 Oktober 2019) ini diikuti 95 tim dari 40 perguruan tinggi di Indonesia.

“Sebenarnya jumlah peserta yang masuk ada 150 tim. Namun setelah dilakukan seleksi peserta secara ketat, yang lolos ikut ajang ini hanya 95 tim yang masing-masing beranggotakan tiga mahasiswa,” katanya di acara pembukaan KRTI di Unesa Surabaya, Selasa (1/10/2019).

Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) tingkat nasional ke-7 tahun 2019 secara resmi di buka Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Mohamad Nasir di halaman Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa) di Surabaya, Selasa (1/10/2019)

Maspiah juga menambahkan bahwa dalam kompetisi KRTI ini, perlombaan akan dipertandingkan dalam empat divisi, yaitu divisi fix wings (25 tim), divisi racing plane (24 tim), divisi technology development (24 tim), dan divisi vertical take off landing (22 tim).

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unesa, Prof Dr Nurhasan MKes mengharapkan, kegiatan KRTI ini bukan saja mampu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, namun juga mampu mendukung daya saing bangsa, serta berkontribusi pada industri 4.0.

“Kami berharap melalui ajang kompetisi ini, mampu memberikan kontribusi yang baik bagi perkembangan bangsa,” ungkapnya.

Sementara Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi RI, Mohamad Nasir menyampaikan optimismenya bahwa untuk teknologi, Indonesia bisa terus menjadi yang terdepan di Asia Tenggara.

“Berdasarkan jumlah riset dan paten yang dihasilkan, 20 tahun lalu kita selalu berada urutan empat di Asia Tenggara. Saat ini Indonesia sudah menjadi nomor satu di Asia Tenggara dalam jumlah paten yang dihasilkan,” katanya.

Sementara terkait dengan kontes robot terbang, Mohamad Nasir berharap bisa melahirkan penemu baru robot terbang yang mampu dimanfaatkan oleh semua bidang, seperti pertahanan, pertanian, dan mitigasi bencana

“Saat ini Kemenristekdikti sudah mampu membuat drone yang terbang sejauh 250 kilometer dari titik luncur. Dan saya berharap melalui kompetisi sekelas KRTI ini nantinya kita bisa membuat drone yang bisa mencapai 500 kilometer atau bahkan 1.000 kilometer,” harap Mohamad Nasir.

Nasir juga menceritakan betapa pentingnya tehnologi pesawat tanpa awak (drone, red) ini yang baru-baru ini mampu melakukan serangan ke Kilang Amaranco di Arab Saudi yang menyebabkan kelumpuhan kilang itu.

“Ini menunjukkan bahwa teknologi drone menjadi salah satu senjata yang luar biasa dimasa depan. Dan bila kita mampu mengembangkan teknologi ini maka ini akan sangat membantu banyak bidang, termasuk membantu TNI melakukan pengawasan terhadap teritorial Indonesia yang sangat luas,” pungkasnya. (men)

Leave a Reply