Nilai Uji Kompetensi Guru, Jatim Terbaik Keempat Nasional

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) telah selesai digelar di seluruh Provinsi se-Indonesia.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah menetapkan nilai pelaksanaan Uji Kompetensi Guru (UKG) Jawa Timur sebagai provinsi terbaik keempat nasional.

Nilai Uji Kompetensi Guru, Jatim Terbaik Keempat Nasional

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Kemendikbud, Sumarna Surapranata mengatakan, nilai yang diraih oleh tujuh provinsi terbaik merupakan nilai yang mencapai Standar Kompetensi Minimum (SKM) yang ditargetkan secara nasional, yaitu rata-rata 55. Tujuh provinsi tersebut diantaranya, DI Yogyakarta (62,58), Jawa Tengah (59,10), DKI Jakarta (58,44), Jawa Timur (56,73), Bali (56,13), Bangka Belitung (55,13), dan Jawa Barat (55,06).

“UKG 2015 ini menguji kompetensi guru untuk dua bidang yaitu pedagogic dan professional. Dan rata-rata nasional hasil UKG 2015 untuk kedua bidang kompetensi itu adalah 53,02,” terangnya, melalui press release Kemendikbud, Selasa (12/1/2016).

Selain tujuh provinsi yang mendapatkan nilai sesuai SKM, menurut Sumarna, ada tiga provinsi yang mendapatkan nilai di atas rata-rata nasional, yaitu Kepulauan Riau (54,72), Sumatera Barat (54,68), dan Kalimantan Selatan (53,15).

Ia juga mengungkapkan apabila dirinci untuk hasil UKG untuk kompetensi bidang pedagogic saja, rata-rata nasional hanya 48,94, yakni berada di bawah SKM, yaitu 55. Bahkan untuk bidang pedagogik ini, hanya ada satu provinsi yang nilainya di atas rata-rata nasional sekaligus mencapai SKM, yaitu DI Yogyakarta (56,91).

“Itu berarti artinya bidang Pedagogik cara mengajarnya yang kurang baik, cara mengajarnya harus diperhatikan,” tuturnya.

Pranata menambahkan setelah nilai UKG dilihat secara nasional, nanti akan dilihat lagi secara rinci hasil UKG per kabupaten/kota, dan hasil UKG per guru.

“Ada pertanyaan, ini data hasilnya mau diapakan? Dengan data ini kita dapat potret untuk kita memperbaiki diri,” ujarnya.

Ia mencontohkan, ada guru yang mendapat nilai rata-rata 85. Namun meskipun nilai tersebut baik, setelah dianalisis hasilnya, guru tersebut memiliki kekurangan di beberapa kelompok kompetensi.

“Dia ada kekurangan di tiga kelompok, yaitu kelompok kompetensi 1, kelompok kompetensi 4, dan kelompok kompetensi 6. Maka dia harus memperbaikinya,” tukasnya.

Seperti diketahui, salah satu instrument untuk meningkatkan kompetensi guru itu adalah dengan pelatihan dan pendidikan yang lebih terarah sesuai dengan hasil UKG. Secara nasional penyelenggaraan UKG pertama kali dilakukan secara offline dengan peserta sebanyak 300 ribuan guru. Pada UKG tahun kedua berlangsung secara online. Hal ini hanya diberlakukan bagi daerah yang sudah siap dengan ujian online.

Tahun 2015, pelaksanaan UKG secara online dan offline bagi seluruh guru di Indonesia. Sebanyak 36 kabupaten kota menggunakan system online dari 500-an kabupaten kota yang mengikuti UKG. (Kj/Ep)

Leave a Reply