Revolusi Mental Para Pemuda, Perlu Dilakukan

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Bonus demografi menjadi perbincangan hangat dewasa ini. Apalagi pada tahun 2020 – 2030 nanti, Indonesia diperkirakan mencapai bonus demografi, dimana penduduk usia produktif dalam rentang usia 15 – 60 tahun mendominasi piramida kependudukan. KArena itulah Peran pemuda perlu diperkuat agar prediksi bonus itu tak menjadi bencana.

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) bekerjasama dengan Universitas Airlangga menyelenggarakan dialog kampus bertema ‘Penguatan Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa Berkelanjutan’. Acara yang diselenggarakan di Aula Garuda Mukti, Senin (23/5/2016) ini, dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai kampus.

Dialog Kampus bertema ‘Penguatan Peran Pemuda dalam Pembangunan Desa Berkelanjutan’. Acara yang diselenggarakan di Aula Garuda Mukti, Senin (23/5), dihadiri ratusan mahasiswa dari berbagai kampus

Dalam acara ini, sebanyak lima pembicara hadir dalam dialog kampus. Kelima pembicara itu adalah Ketua BKKBN dr. Surya Candra Surapaty, perwakilan United Nations for Population Fund (UNFPA) Anggraini Sari Astuti, Ketua Koalisi Muda Kependudukan Kartini Laras Makmur, Ketua Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dr. Sonny Harry B Harmadi, serta Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia Prof. Dr. Jusuf Irianto, M.Comm.

Dalam dialog itu, Surya mengatakan, bonus demografi terjadi hanya satu kali dalam setiap sejarah bangsa. Agar bonus demografi itu bisa dimanfaatkan optimal, maka kualitas penduduk khususnya pada usia produktif bisa meningkat, apalagi era Masyarakat Ekonomi ASEAN telah berada di depan mata.

“Mental para pemuda harus direvolusi. Dan ketiga hal yang perlu ditingkatkan adalah integritas, etos kerja, dan gotong royong,” terangnya, Senin (23/5/2016).

Ketua BKKBN itu juga mengingatkan pentingnya komunikasi interpersonal dalam lingkungan keluarga. Menurut Surya, kasus pembunuhan antar anggota keluarga yang marak di media massa belakangan ini, terjadi karena kurangnya komunikasi.

“Anak bunuh ayah, atau sebaliknya, itu menurut saya adalah bencana kependudukan. Mereka harus kembali meningkatkan komunikasi,” tutur Surya.

Peran pendidikan tak kalah pentingnya dalam meningkatkan kualitas pemuda. Sayangnya, kondisi ini tak dibarengi dengan penguatan infrastruktur lembaga pendidikan, seperti penambahan jumlah perguruan tinggi.

“Awal kita merdeka pada tahun 1945, penduduk Indonesia berjumlah sekitar 50 juta orang. Sekarang, menurut data terbaru, jumlah penduduk Indonesia sekitar 256 juta orang. Namun, perguruan tinggi negeri kita tidak banyak bertambah. Kita hanya punya dua institut teknologi negeri. Jumlah balita (di bawah lima tahun) kita banyak, maka PAUD (pendidikan anak usia dini) juga banyak. Tapi universitasnya tidak,” tutur Ketua Lembaga Demografi UI itu.

“Ada organisasi namanya Gerakan Indonesia Mengajar yang fokus dengan bidang pendidikan. Ada organisasi yang bergerak di bidang kesehatan seperti Pencerah Nusantara. Itu organisasi-organisasi bagus yang bisa bikin kita menjadi bermanfaat bagi masyarakat,” tutur Kartini.

Anggraini selaku perwakilan dari UNFPA, mengatakan, bahwa pemuda perlu berkomitmen dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. “Pemuda dapat berinovasi dan terus kreatif. Selain itu, pemuda juga perlu showcase kepada stakeholder,” tutur Anggraini. (EP)

Leave a Reply