Tahir Bicara Filantropi dan Riset di UNAIR

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Pengusaha yang juga filantropis, Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, MBA memberikan studium generale bertajuk ‘Strengthening Industry-Academia Linkage for the Better World’, di Aula Garuda Mukti, Kantor Manajemen Universitas Airlangga (UNAIR), Senin (14/3/2016).

Rektor UNAIr Prof. Moh Nasih (kiri) member cindera mata berupa buku pada Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, MBA

Dalam kesempatan itu, Tahir mengaku gemas dengan universitas-universitas di Indonesia yang masih belum mampu menunjukkan tajinya. Ini terbukti dengan tidak adanya satupun universitas di Indonesia yang bisa menembus lima ratus besar dunia.

“Di Indonesia ini, kampus tidak punya endowment. Bagaimana mau bisa berkembang?” ujarnya.

Tahir juga menyarankan UNAIR untuk mulai terbuka dan menjalin banyak kerjasama dengan kalangan pengusaha. Dan mulai mengembangkan skema professorship sehingga para guru besar yang dimiliki UNAIR bisa memperoleh bantuan dari para pengusaha dalam berbagai kegiatan risetnya.

“Sebuah universitas akan bias dibilang baik, bila riset-risetnya juga baik,” jelas Tahir.

Dalam stadium generale tersebut, Tahir yang sempat terlibat di IKOMA UNAIR mengatakan bahwa dulu dirinya sempat mendaftarkan diri menjadi mahasiswa di Fakultas Kedokteran UNAIR, namun ia justru diterima di Fakultas Hukum dan Fakultas Ekonomi. Namun akhirnya Ia membatalkan diri menjadi mahasiswa UNAIR, ketika kemudian diterima menjadi mahasiswa di Nanyang Technological University, Singapura.

Tahir juga menjelaskan bahwa menjadi orang kaya atau pengusaha besar hanyalah proses bukan tujuan. Dan akan menjadi kacau ketika kita mencampuradukkan antara tujuan dan proses. Dan Tahir juga menegaskan, manusia harus menjadi benar terlebih dahulu untuk bisa melakukan hal-hal yang benar.

“Tujuan hidup saya adalah menciptakan nilai tambah bagi orang banyak,” ujarnya. Prinsip

Apa yang dilakukan Tahir hingga saat ini tidak terlepas dari pengalaman hidupnya yang dilalui dengan penuh perjuangan, sebagai anak dari orang tua yang memiliki usaha penyewaan becak di Surabaya.

Dimana di satu kesempatan, ia mengaku menyaksikan sebuah tayangan televisi yang menggambarkan seorang anak busung lapar yang mengusik hatinya.

“Saat itu saya bilang kepada diri saya, kalau suatu saat saya mampu, saya akan perbaiki ini. Dan ternyata Tuhan mendengar doa saya,” terangnya.

Menurut Tahir, kita memang tidak bisa memilih lahir dari orang tua atau keluarga mana. Namun ia meyakini bahwa ia bisa memilih untuk menjadi orang yang baik atau orang yang jahat.

Dan ketika mulai terlibat di dunia filantropi, pria yang mendapat gelar kehormatan Dato’ Sri dari Kesultanan Pahang, Malaysia ini, Tahir kemudian memilih dunia pendidikan dan kesehatan untuk memulai kegiatan-kegiatan filantropinya.

“Tidak ada negara yang mengklaim dirinya sebagai bangsa besar jika pendidikannya tidak baik,” tambah Tahir.

Dan melalui Tahir Foundation-nya, ia juga dikenal aktif memberikan bantuan untuk meningkatkan kualitas dunia kesehatan di tanah air.

“Saya bersuka cita ketika uang yang saya berikan dipakai untuk memperbarui healthcare. Dan sebelum Tuhan menghentikannya saya, saya akan terus berjuang,”ujar pria yang juga anggota Board of Trustees University of California, Berkeley ini. (EP)

Leave a Reply