Tim Indonesia Maju ke Final “Go Green in the City 2016” di Paris, Mewakili Wilayah East Asia Japan

JAKARTA (kabarsurabaya.com) – Kompetisi Go Green in The City (GGITC) East Asia Japan Regional Final 2016, telah memilih sebanyak 10 tim sebagai pemenang di masing-masing negara, mewakili Indonesia, Korea, Filipina, Malaysia, Singapura, Taiwan, Thailand, Myanmar, Vietnam dan Jepang. Dan masing– masing telah memaparkan program dan konsep pengelolaan energi yang efisien dan inovatif secara virtual di hadapan dewan juri yang terdiri dari pakar internasional di bidang pengelolaan energi.

Di tingkat nasional, tahap final telah digelar tanggal 19 Mei 2016. Setelah sembilan finalis dari berbagai wilayah Indonesia mempresentasikan proposal mereka di hadapan dewan juri, akhirnya Tim Scarf dari Universitas Indonesia dengan konsep “Droplock Turnstile Gate” berhasil keluar sebagai pemenang pertama.

Pemenang Pertama GGITC 2016 Tingkat East Asia - Tim Scarf dari Universitas Indonesia

Selain memenangkan uang tunai sebesar Rp30 juta, tim ini akhirnya maju ke babak selanjutnya untuk berkompetisi dengan para pemenang dari negara East Asia Japan lainnya di Go Green in the City East Asia Japan Regional Final tanggal 10 Juni 2016 lalu.

Setelah melewati proses penjurian yang ketat, dewan juri akhirnya mengumumkan satu tim pemenang yang akan berangkat ke Paris, Perancis untuk lanjut ke tahap final ‘Go Green in the City’ International Case Challenge di Paris bulan September mendatang.

Berikut urutan tiga besar pemenang Go Green in the City 2016 tingkat East Asia Japan Regional Final : Pemenang I, adalah Tim “Scarf” dari Indonesia (Universitas Indonesia) dengan proyek Droplock Turnstile Gate. Melalui inovasi ini, listrik dapat secara mudah dihasilkan dari pergerakan gerbang pintu putar (turnstile gate) yang umum ditemui di halte atau stasiun kereta.

Pemenang II, Tim “Ateneo Ohm” dari Filipina (Ateneo De Manila University) dengan proyek AeoLuminate, berupa perangkat yang akan menjadi sebuah langkah maju untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh kondisi cuaca yang tidak menentu, yang sering dihadapi oleh teknologi terbarukan yang saat ini ada.

Pemenang III, Tim DTU dari Vietnam (Duy Tan University) dengan proyek “Solusi Tambak Udang Ramah Lingkungan dengan Metode Zero Water Replacement”. Proyek ini bertujuan menciptakan metode budidaya udang baru yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Tim Indonesia sebagai pemenang pertama akan melewati proses pendampingan dan pelatihan yang akan diberikan oleh para ahli dari Schneider Electric untuk memantapkan kesiapan mereka di ajang Grand Final Go Green in The City pada tanggal 19-22 September 2016 di Paris. Mereka akan bersaing di tahap final dengan 13 tim terbaik dari negara-negara dunia lainnya.

Riyanto Mashan selaku Country Director Schneider Electric Indonesia menuturkan, ini merupakan suatu kebanggan besar bagi Schneider Electric Indonesia bahwa konsep yang dibawa oleh tim ‘Scarf’ dari Universitas Indonesia mampu mengungguli tim-tim lainnya di tingkat East Asia Japan.

“Artinya, kreativitas anak bangsa dapat bersaing di tingkat regional dan dunia. Semoga melalui kompetisi ini, generasi muda Indonesia akan lebih terlibat aktif dalam menghadapi isu kelangkaan energi yang terjadi saat ini melalui ide-ide efisiensi energi yang inovatif,” jelasnya, Rabu (15/6/2016).

Diketahui, GGITC merupakan kompetisi global tahunan yang diselenggarakan oleh Schneider Electric berdasarkan fakta bahwa efisiensi energi di perkotaan merupakan sesuatu yang mutlak dilakukan. Hal ini disebabkan oleh arus urbanisasi, digitalisasi dan industrialisasi yang melanda hampir semua kota di seluruh belahan dunia.

Bagi Schneider Electric, kompetisi GGITC yang digelar setiap tahun sejak 2009, merupakan kunci penting bagi lahirnya inovasi, suatu hal yang sejak awal telah menjadi DNA bagi Schneider Electric.

“Mahasiswa dapat berkontribusi pada pemetaan langkah-langkah digitalisasi, dekarbonisasi dan desentralisasi energi yang saat ini dibutuhkan dunia demi menciptakan lingkungan perkotaan yang tidak hanya efisien secara energi, namun juga ramah lingkungan. Dengan kata lain, kami senantiasa mengupayakan adanya sebuah open innovation yang berkelanjutan di segala level,” pungkas Riyanto. (EP)

Leave a Reply