6.1 C
New York
Sabtu, Desember 3, 2022

Buy now

Black Campaign Terus Serang Petahana

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Seminggu jelang coblosan Pilwali Surabaya, pasangan calon Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana mengingatkan warga Kota Pahlawan, agar lebih waspada terhadap upaya-upaya black campaign. Terlebih lagi di masa-masa tenang, yang berpotensi terjadinya serangan fajar.

Stop Black Campaign

Risma mengungkapkan, dari informasi yang dia terima, saat ini ada pihak-pihak terus melakukan serangan terhadap paslon nomor urut dua. Karena itu, dia mengajak warga Surabaya untuk tidak terpancing.

“Saya ingatkan warga Surabaya agar tidak terkecoh dengan kampanye hitam. Sebab sekarang sudah ada indikasi munculnya politik uang,” kata Risma, Selasa (1/12/2015).

Dia menyebut, indikasi politik uang itu di antaranya, dengan adanya pihak yang minta pemilih perempuan untuk tidak datang ke TPS saat coblosan 9 Desember, yang disertai iming-iming uang Rp 50.000.

“Pemberi uang itu mengatakan kepada ibu-ibu, ngapain datang ke TPS toh Risma pasti menang. Jadi nggak perlu nyoblos, Risma sudah menang. Bagi yang bersedia, akan diberi uang,” ungkapnya.

Sedangkan untuk para lelaki, lanjut dia, dipersilakan datang ke TPS, untuk memberi hak suaranya. Namun, bagi mereka yang bersedia memotret kertas suara yang sudah dicoblosnya, juga diiming-imingi imbalan sejumlah uang.

“Mereka (kaum laki-laki) diminta memotret surat suara yang sudah dicoblos. Lalu fotonya bisa ditukar dengan uang,” ujar Risma.

Upaya kampanye negatif yang juga dia terima, lanjut Risma, soal informasi yang menyudutkan dirinya, dengan menyebutkan, Risma akan menutup sekolah-sekolah swasta di Surabaya jika menjabat wali kota.

“Masak saya dituduh mau menutup sekolah swasta. Adanya demo guru sekolah swasta di dewan kemarin itu, dijadikan alat untuk menjelek-jelekkan saya,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Tim Pemenangan Risma- Whisnu, Adi Sutarwijono mengakui, pasangan yang diusung PDI Perjuangan kerap diisukan negatif. Menurutnya, ada pihak-pihak yang merasa tak senang dengan tingginya elektabilitas pasangan petahana tersebut.

“Isu-isu murah itu disusun untuk menggerogoti keterpilihan. Incumbent kan tak seratus persen sempurna,” kata Awi.

Dia menilai, munculnya isu negatif yang memojokkan pasangan Risma-Whisnu sebagai kewajaran, apalagi dalam pelaksanaan pilkada.

“Cara menggoyang calon kuat, biasanya mencari isu-isu negatif yang sifatnya subyektif,” jelas Awi.

Pria yang juga Wakil Ketua Komisi A DPRD Surabaya itu menambahkan, upaya lain yang tergolong black campaign adalah dengan membuat skenario kasus yang seolah-olah pelakunya adalah pasangan Risma-Whisnu.

“Bisa jadi ada pembagian sembako yang diberi label Risma-Whisnu. Kemudian, pelakunya mereka tangkap sendiri. Karena jika ada hal-hal yang sifatnya emosional kan paling cepat daya dorongnya,” terang dia.

Meski demikian, mantan jurnalis ini yakin, masyarakat Surabaya sudah sangat cerdas dalam menentukan pilihannya pada Pilkada. Dia yakin masyarakat tak gampang terpengaruh berbagai upaya kampanye hitam yang menyudutkan pasangan Risma-Whisnu.

“Masyarakat di Surabaya sudah cerdas, memahami isu-isu negatif itu dan bisa menentukan pilihan sesuai keinginannya sendiri,” tutur Adi. (Mc/Ep)

Related Articles

Stay Connected

22,764FansSuka
3,591PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles