20.2 C
New York
Rabu, Juni 16, 2021

Buy now

Aktivis Lingkungan Demo Tuntut Perhutani Lebih Peduli Hutan Lindung




SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Puluhan aktifis lingkungan Jawa Timur yang menamakan dirinya Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestarian Mata Air mengadakan aksi demo didepan kantor Perum Perhutani Jawa Timur, Selasa (8/9/2015).

Beberapa organisasi dan aktivis peduli lingkungan yang bergabung di gerakan massa ini, diantaranya Padepokan Wonosalam Lestari, Ecoton, Komunitas Peduli Sungai Ciliwung, Telapak Bogor, Telapak Jawa Timur dan Telapak Pusat, Nol Sampah, Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan (KJPL INDONESIA) dan Aliansi Masyarakat Sungai Indonesia (AMSI).

Aksi yang diisi dengan orasi dan teatrikal warga sedang memotong kayu dengan gergaji mesin ini, menuntut Perhutani agar serius menyelamatkan mata air di Hutan Lindung.

Para aktivis lingkungan menuding Perum Perhutani gagal mengelola hutan lindung di Jatim. Dimana salah satu indikatornya adalah terus berkurangnya jumlah sumber mata air, khususnya yang berada di wilayah daerah aliran sungai (DAS).

Juru Bicara Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air Jatim, Prigi Arisandi, mengatakan berdasar data yang dihimpun, saat ini jumlah mata air di wilayah hutan lindung di beberapa wilayah, seperti Malang, Jombang, Lumajang, Tulungagung, Trenggalek, Mojokerto, dan Blitar terus menyusut.

“Jika empat tahun lalu, di kawasan hutan lindung Jatim termasuk DAS luasnya mencapai 344.742 hektar dan terdapat lebih dari 1.597 mata air, sekarang lebih dari separuhnya sudah hilang,” jelasnya.

Sementara berdasar data yang disampaikan Badan Pengelola DAS Brantas, lahan kritis di DAS Brantas mencapai 231.290 hektar. Luasan lahan kritis itu terancam terus meluas jika tidak dilakukan langkah antisipasi secepatnya.

“Kalau lahan kritis terus dibiarkan meluas sangat berbahaya, karena rentan terjadi bencana banjir dan tanah longsor,” tegas Direkur Ecoton ini.

Ketidakmampuan dari Perhutani mengelola hutan lindung di Jatim ini juga ditunjukkan dengan pengalihfungsian hutan lindung menjadi kebun kopi yang justru merusak mata air, seperti yang terjadi di daerah Mojokerto, Wonosalam, Jombang, Lumajang, Trenggalek, Malang, dan Tulungagung.

“Perhutani jangan hanya fokus pada kegiatan produksi hutan yang nyata-nyata tak bisa diandalkan sebagai penyangga dan penyimpan air,” wanti-wantinya.

Dalam kesempatan itu juga, Aliansi Masyarakat Pelindung Hutan dan Pelestari Mata Air Jatim menawarkan solusi, yakni Perhutani diminta segera melakukan pemetaan dan perlindungan mata air di radius 200 meter dalam hutan lindung.

Selain itu juga aktifitas alih fungsi hutan untuk perkebunan masyarakat, serta makin intensif melakukan penyuluhan dan rehabilitasi hutan lindung.

“Perhutani juga harus berani menertibkan dan melakukan pembinaan pada para aparat Perhutani yang sering melakukan permainan kotor dalam penebangan pohon di hutan lindung,” tukas Prigi.

Di penghujung demo, Sekretaris Divisi Regional Perum Perhutani Jawa Timur, Yahya Amin, yang menemui para ‘pejuang’ lingkungan hidup ini berjanji akan menindaklanjuti aspirasi para aktivis lingkungan.

“Saya besok akan kesana melihat langsung kondisi hutan seperti yang sudah disampaikan kawan-kawan,” tandas Yahya. (Edmen Paulus)




Related Articles

Stay Connected

21,995FansSuka
2,508PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

Latest Articles