Kongres Sungai Indonesia yang kali pertama digelar di ke Banjarnegara, Jawa Tengah

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kejaksaan Tinggi Jawa Timur diminta segera mengusut dugaan penyalahgunaan anggaran, yang dilakukan Panitia Pra Kongres Sungai Jawa Timur.

Desakan ini disampaikan Teguh Ardi Srianto Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia, karena melihat ada yang tidak beres dengan penggunaan anggaran yang sudah dihimpun Panitia Pra Kongres Sungai Jawa Timur.

Diterangkan Teguh, Panitia Pra Kongres Sungai Jawa Tmur merupakan panitia lokal yang dibentuk sebelum pelaksanaan Kongres Sungai Indonesia pada 26-30 Agustus 2015 lalu, di Banjarnegara, Jawa Tengah.

Dalam proses perjalanannya, Panitia Pra Kongres Sungai Jawa Timur ini melakukan beberapa kegiatan, diantaranya pertemuan pra kongres di Kantor PDAM Surabaya dan pemberangkatan perwakilan Jawa Timur ke Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk mengikuti Kongres Sungai Indonesia yang kali pertama digelar.

Dalam kesempatan itu, Panitia memperoleh sumbangan dana sebesar Rp 30 juta dari Perum Jasa Tirta I dan Gubernur Jawa Timur masing-masing Rp 15 juta yang akan dipakai untuk transportasi dan akomodasi peserta Kongres Sungai dari Jawa Timur ke Banjarnegara.

Dan disinlah muncul persoalan, karena Panitia Pra Kongres Sungai Jawa Timur diduga tidak menggunakan anggaran yang sudah didapat dari Jasa Tirta dan Gubernur Jawa Timur sesuai peruntukannya.

Ternyata untuk berangkat ke Banjarnegara, panitia sudah dapat bantuan satu unit mobil Elf dan satu Kijang dari Badan Lingkungan Hidup Jawa Timur yang ditanggung semua anggaran bahan bakarnya oleh BLH Jawa Timur. Sementara panitia hanya menyewa 2 unit mobil, Avanza dan Xenia plus satu mobil Kuda.

“Yang ini menurut Bahrul Koordinator Panitia Kongres Sungai Jawa Timur, merupakan mobil pinjaman dari seseorang,” ujar Teguh, Kamis (17/9/2015).

Bahkan masih menurut Teguh, waktu Kongres Sungai di Banjarnegara, ternyata panitia lokal sudah menyiapkan konsumsi yang berlimpah dan didukung sepenuhnya oleh TNI-AD dengan membuat restoran dan tenda darurat untuk kebutuhan konsumsi peserta.

“Nah, otomatis anggaran dari Jasa Tirta dan Gubernur Jawa Timur jelas tidak banyak digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum peserta dari Jawa Timur,” terang Teguh.

Sayangnya menurut Teguh, dua minggu sesudah acara selesai, panitia Kongres Sungai Jawa Timur, tidak memberikan laporan keuangan secara terbuka kepada perwakilan peserta dari Jawa Timur dalam forum rapat terbuka, seperti yang dijanjikan.

“Ini merupakan ketidakberesan dari panitia Kongres Sungai Jawa Timur, karena sebelumnya, Koordinator Panitia berjanji akan menyampaikan laporannya secara terbuka, satu minggu sesudah acara selesai, tapi semua itu hanya omong kosong dan tidak terbukti sampai sekarang,” tegas Teguh.

Ketua Komunitas Jurnalis Peduli Lingkungan – KJPL Indonesia itu, juga minta para penegak hukum, baik polisi atau jaksa, segera mengusut ketidakberesan penggunaan anggaran yang bersumber dari kas negara itu, karena indikasi korupsi terlihat jelas.

“Kalau ini tidak segera diusut, akan membuat citra para peserta kongres sungai dari Jawa Timur akan tercoreng, hanya karena ulah oknum panitia pra kongres yang tidak beres,” paparnya.

Teguh juga menyinggung, soal beberapa isu-isu bahasan strategis tentang upaya pelestarian sungai dari Jawa Timur yang tidak bisa tersampaikan dalam Kongres Sungai Indonesia, karena tidak tegas dan tidak jelasnya koordinasi dari Koordinator Panitia Pra Kongres Sungai Jawa Timur waktu di Banjarnegara, Jawa Tengah, 26-30 Agustus 2015 lalu. (Edmen Paulus)

Leave a Reply