KPI Bertanggungjawab atas Maraknya LGBT

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Maraknya fenomena LGBT (lesbi, gay, biseksual, transgender) akhir-akhir ini memang membuat banyak pihak terutama orang tua (khususnya ibu) menjadi sedikit ketakutan bila anak-anak mereka akan terpengaruh dengan LGBT.

Ketua umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) kota Surabaya, Asrilia Kurniati bersama Walikota Surabaya Risma (dok)

Bagi sebagian kalangan, kesalahan terbesar dengan maraknya LGBT adalah kurangnya control orang tua pada anak-anak mereka. Namun hal ini dijawab oleh Ketua umum Gabungan Organisasi Wanita (GOW) kota Surabaya, Asrilia Kurniati

Meski mengakui peran keluarga khsusunya orang tua sangat besar dalam menghindarkan anak-anak terkontaminasi LGBT, namun kurangnya perhatian dan kepedulian Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) nampaknya menjadi factor influence yang sangat besar bagi berkembangnya LGBT di Indonesia.

“Lihat saja di televisi, begitu banyaknya presenter dan pembawa acara laki-laki yang penampilannya lemah gemulai dan bergaya perempuan. Bahkan terkadang mereka juga memakai pakaian wanita. Ini semua dilihat setiap hari oleh anak-anak, yang pada akhirnya menilai bahwa hal itu adalah wajar,” terangnya kepada kabarsurabaya.com, Rabu (24/2/2016).

Ini menurut Asrilia, berarti KPI teledor dan mungkin gagal dalam tugasnya sebagai lembaga yang memantau program-program siaran media elektronik di Indonesia.

“Mestinya KPI lebih jeli dalam melihat tampilan program-program yang ada di media elektronik, khususnya televisi, yang memang secara audio visual bisa dilihat dan cenderung jadi trend. KPI harusnya jauh-jauh hari mencermati hal ini dan melakukan tindakan,” lanjut Asrilia.

Lebih jauh Asrilia juga menyampaikan bahwa ia sendiri sangat miris dengan LGBT yang terlalu show up.

“Namun secara manusiawi, saya tidak bisa menyalahkan mereka karena itu adalah hak mereka masing-masing, tapi semua itu kan ada norma-normanya sendiri, baik itu norma agama, attitude maupun norma sosial dan budaya,” lanjutnya.

Meski demikian, Asrilia mengungkapkan bahwa sebenarnya kalau kita mau melihat lebih dalam, sebearnya sebagain dari mereka yang tergolong dalam LGBT itu sebenarnya batinnya juga tersiksa, meski ada yang enjoy juga.

KPI Bertanggungjawab atas Maraknya LGBT

“Saya sendiri sering bertemu dengan LGBT ini, dan banyak yang menyampaikan bahwa mereka sebenarnya tidak ingin seperti ini. Tapi apa daya karena mereka sangat dipengaruhi oleh hormon yang ada di tubuh mereka,” lanjutnya.

Karena itu Asrilia menyarankan, kita sebagai orang normal harus menyikapinya dengan bijak dan tidak memusuhi mereka.

“Kalau kita bisa menasehati mereka ya kita nasehati. Tapi kalau gak bisa ya itu hak asasi mereka.” Tegas Asrilia.

Dan terkait dengan kondisi ini, Asrilia juga menjelaskan bahwa GOW kota Surabaya akan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah dan menggelar seminar yang bertujuan untuk menghindarkan anak-anak supaya tidak terjerumus dalam kelompok LGBT. (EP)

Leave a Reply