Uci Flowdea : Kaya Dulu, Baru Jadi Sosialita

SURABAYA (kabarsurabaya.com) – Kehidupan glamor yang suka berbelanja (shoping) barang-barang mewah, kongkow-kongkow, dan liburan ke luar negeri, sering melekat pada sosok yang disebut sosialita. Stereotype yang muncul di masyarakat memang tidak salah. Tapi apa semua sosialita hanya senang bergaya hidup foya-foya ?

Uci Flowdea, Sosialita Surabaya

Ternyata tidak semua sosialita menganggap hidup glamor adalah yang utama dalam hidupnya. Ini diakui Uci Flowdea, salah satu sosialita papan atas Surabaya.

Wanita pengusaha yang cukup sukses dalam bisnisnya ini, meyakini bahwa yang benar adalah harus memiliki landasan ekobnomi yang kuat dulu baru bisa masuk ke komunitas sosialita. Bukannya masuk menjadi sosialita dengan memaksakan diri supaya terlihat hebat dan wah….

“Saya masuk ke dunia sosialita setelah secara ekonomi saya cukup mapan. Dan bergaul dengan kalangan sosialita yang lain menjadi salah satu sarana melepas stress saya karena tekanan bisnis yang saya tekuni,” ujarnya pada kabarsurabaya.com di rumah barunya di kawasan elit Pakuwon Surabaya Barat, Jumat (5/2/2016).

Uci tidak menolak bila banyak dikalangan sosialita Surabaya yang secara ekonomi biasa-biasa saja tapi masuk menjadi sosialita.

“Ya sosialita itu banyak modelnya, dan tidak jarang ada yang memaksakan diri meski secara ekonomi belum memadai. Tapi bagi saya, itu adalah pilihan dari masing-masing pribadi. Itu hak mereka,” tambahnya.

Uci yang menekuni bisnis kayu sebagai bisnis utamanya sejak 1996 lalu, kini Uci sudah memiliki 2 pabrik, yang mengkhususkan di kayu jenis sonokeling. Bahkan tahun di 2016 ini, Uci berencana menambah 1 pabrik lagi guna memperbesar bisnisnya.

Diakui Uci, bisnis kayu sonokeling yang dimilikinya hampir 100% di ekspor ke China, dan hanya sebagian kecil saja untuk konsumsi lokal.

“Mayoritas memang produk kayu sonokeling ini kita ekspor ke China, dan hanya sedikit yang ke dalam negeri. Itupun hanya untuk Yamaha Music,” tutur Uci.

Sosialita Uci Flowdea

Selain bisnis kayu, Uci ternyata juga memiliki beberapa bisnis lain, seperti bisnis property di Jawa Timur dan Bali, serta bisnis fashion sebagai bagian dari hobinya.

Sekalipun kesibukan sebagai pengusaha wanita cukup menyita waktu, Namun Uci tidak pernah melupakan tanggungjawabnya sebagai Ibu dari 2 anaknya (20 tahun dan 13 tahun),serta berolahraga yoga. Selain itu, sebagai umat nasrani, setiap selasa Uci selalu meluangkan waktunya untuk ‘pelayanan’.

Bagi Uci, tanggung jawab pada apa yang sudah dipilih adalah suatu hal yang mutlak harus dilakukan. Apalagi untuk anak-anaknya, dia tidak pernah melepaskan begitu saja mereka ke tangan “asisten rumah tangga”.

“Anak-anak itu adalah anak-anak saya dan bukan anak pembantu, jadi ya harus saya yang utama dalam memberikan kasih sayang dan perhatian. Bahkan setiap pagi, saya selalu yang membuatkan mereka sarapan dan kita makan pagi bersama,” terang Uci.

Uci Flowdea (duduk) bersama teman-teman sosialita Surabaya yang lain, Samantha (kiri) dan juga Amelia Salim (berbaju pitih)

Sosialita yang juga pengusaha asli Surabaya yang lahir dan dibesarkan di daerah Bratang ini juga menegaskan komitmennya untuk membantu masyarakat yang kurang beruntung yang memerlukan bantuan.

“Ini adalah komitmen saya dalam berbagi kebahagiaan dengan sesama. Dan ini bukan janya saya lakukan pada masyarakat sekitar pabrik saya, tetapi pada siapa saja yang membutuhkan bantuan. Selama saya bias, pasti saya lakukan,” pungkasnya.

Lalu, masihkan kita akan menilai semua sosialita itu hanya bisa menghambur-hamburkan uang hanya untuk gaya hidup dan gengsi ? (EP)

Leave a Reply