Tatap Muka Lebih Unggul, Lia Istifhama Soroti Learning Loss hingga Gangguan Mental
Anggota DPD RI Lia Istifhama.
Surabaya ( KABAR SURABAYA) – Wacana penerapan pembelajaran dari rumah kembali mencuat seiring upaya efisiensi energi di tengah dinamika global. Namun, langkah tersebut memunculkan perdebatan terkait dampaknya terhadap kualitas pendidikan di Indonesia.
Anggota DPD RI, Lia Istifhama, menegaskan bahwa pembelajaran tatap muka tetap menjadi pilihan utama yang harus diprioritaskan dalam sistem pendidikan nasional.
Menurutnya, proses belajar di sekolah memiliki keunggulan mendasar yang sulit tergantikan oleh sistem pembelajaran jarak jauh.
“Pembelajaran tatap muka harus tetap menjadi prioritas karena lebih efektif dan mampu menjaga kualitas interaksi. Banyak aspek, seperti praktikum dan pembentukan karakter, yang tidak bisa tergantikan oleh pembelajaran jarak jauh,” ujar Lia, Jumat (27/03).
Ia menjelaskan, kebijakan zonasi pendidikan selama ini turut membantu menekan mobilitas siswa. Dengan jarak sekolah yang relatif dekat dari tempat tinggal, penggunaan energi—khususnya dari sektor transportasi—dapat lebih terkendali.
Artinya, pembelajaran tatap muka tidak selalu identik dengan pemborosan energi jika sistem yang ada dijalankan secara optimal.
Di sisi lain, Lia mengingatkan adanya sejumlah risiko serius jika pembelajaran jarak jauh diterapkan secara masif. Selain potensi penurunan capaian belajar (learning loss) dan keterbatasan interaksi antara guru dan siswa, ia juga menyoroti dampak yang lebih luas terhadap perkembangan anak.
Menurutnya, pembelajaran daring berpotensi melemahkan interaksi sosial secara nyata atau modal sosial siswa. Minimnya pertemuan langsung dapat mengurangi kemampuan komunikasi, empati, serta kerja sama yang seharusnya terbentuk di lingkungan sekolah.
Tak hanya itu, ketergantungan pada perangkat digital juga dinilai semakin meningkat. Jika tidak disertai penggunaan yang bijak, hal ini berisiko memicu berbagai gangguan, termasuk masalah kesehatan mental akibat paparan layar berlebihan dan kurangnya kontrol dalam penggunaan teknologi.
Dari sisi fisik, Lia juga menyoroti menurunnya aktivitas motorik anak selama belajar dari rumah. Kondisi ini berpotensi menyebabkan masalah kesehatan seperti obesitas hingga gangguan pertumbuhan lainnya.
“Belajar dari rumah berpotensi menimbulkan kesenjangan, baik dari sisi akses maupun kualitas pembelajaran. Selain itu, aspek sosial-emosional anak juga bisa terdampak karena minimnya interaksi langsung,” jelasnya.
Meski demikian, Lia tidak menutup kemungkinan penggunaan pembelajaran jarak jauh dalam kondisi tertentu, seperti bencana alam, wilayah dengan keterbatasan tenaga pendidik, maupun situasi darurat lainnya. Dalam kondisi tersebut, sistem daring tetap relevan sebagai solusi agar proses belajar tidak terhenti.
Menghadapi masa pascalibur Idulfitri, Lia mengimbau pemerintah daerah untuk tetap melaksanakan pembelajaran tatap muka sesuai kebijakan yang berlaku, sembari terus meningkatkan kualitas pendidikan serta memastikan lingkungan belajar yang aman dan kondusif bagi siswa.
