Ning Ais Soroti Bullying ABK, Desak Evaluasi Pendidikan Inklusi di Surabaya

Anggota Komisi D DPRD Surabaya Ais Shafiyah Asfar ( Ning Ais).


Surabaya ( KABAR SURABAYA) – Maraknya kasus perundungan terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) di sekolah menjadi perhatian serius Anggota Komisi D DPRD Kota Surabaya, Ais Shafiyah Asfar. Ia menilai fenomena tersebut sebagai alarm bagi dunia pendidikan untuk memperkuat pendidikan karakter sekaligus mengevaluasi pelaksanaan sistem inklusi di Kota Surabaya.


Ais menyebut, praktik bullying terhadap ABK tidak bisa dianggap sebagai persoalan sepele. Minimnya literasi siswa dan lingkungan sekolah tentang keberagaman dinilai menjadi salah satu penyebab utama masih terjadinya tindakan intimidasi.


“Perundungan terhadap ABK sering terjadi karena kurangnya pemahaman tentang keberagaman. Ini menjadi tanggung jawab bersama, terutama dalam membangun pendidikan karakter yang kuat,” ujarnya, Senin (23/2/2026).


Politisi yang juga menjabat sebagai Ketua Harian DPP Partai Kebangkitan Bangsa itu menegaskan, pendidikan inklusif tidak cukup hanya membuka akses penerimaan bagi ABK. Sekolah, menurutnya, wajib memastikan seluruh ekosistem pendukung benar-benar siap, mulai dari tenaga pendidik, manajemen sekolah, hingga kultur sosial di lingkungan pendidikan.


Ia menilai lemahnya pengawasan serta belum tertanamnya nilai empati sejak dini menjadi faktor yang memperbesar potensi terjadinya bullying. Karena itu, pembiasaan sikap saling menghargai harus ditanamkan sejak awal proses pendidikan.


“Kalau pengawasan longgar dan nilai empati tidak dibangun, maka perundungan akan terus berulang. Anak-anak perlu dibiasakan menghargai perbedaan sejak dini,” tegasnya.


Ais juga menyoroti pentingnya peningkatan kapasitas guru dalam mengelola kelas inklusif. Menurutnya, pelatihan yang memadai menjadi kunci agar suasana belajar dapat berjalan aman dan nyaman bagi seluruh siswa tanpa diskriminasi.


Lebih lanjut, ia mendorong Dinas Pendidikan Kota Surabaya untuk melakukan audit dan evaluasi menyeluruh terhadap implementasi kurikulum pendidikan karakter. Upaya tersebut dinilai penting agar pencegahan kekerasan di sekolah dapat dilakukan secara sistematis dan terukur.


“Kita ingin Surabaya benar-benar menjadi kota ramah anak. Tidak boleh ada ruang bagi tindakan merendahkan atau mengucilkan anak hanya karena perbedaan,” tandasnya.


Ais berharap sinergi antara pemerintah, sekolah, dan orang tua dapat diperkuat demi menghapus stigma terhadap ABK serta membangun generasi yang lebih inklusif dan berkarakter di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *