Senator Lia Istifhama Ajak Perempuan Berani Memimpin dengan Karakter Kuat
Surabaya ( KABAR SURABAYA) – Anggota Lia Istifhama mengajak perempuan Indonesia untuk berani mengambil peran sebagai pemimpin dengan membangun karakter, kecerdasan, serta keberanian dalam menyuarakan gagasan.
Ajakan tersebut disampaikan senator dari Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia itu dalam pemaparan bertajuk “Suara Perempuan untuk Indonesia Lebih Setara” di Surabaya, yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Perempuan Internasional, Minggu (8/3).
Perempuan yang akrab disapa Ning Lia itu menegaskan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa. Ia bahkan mengutip sebuah hadis yang menyebutkan perempuan sebagai tiang negara.
“Jika perempuan baik maka negara akan baik, dan jika perempuan rusak maka negara pun akan rusak,” ujarnya
Menurut putri almarhum KH Maskur Hasyim tersebut, perempuan memiliki keunggulan berupa empati dan kemampuan membangun relasi sosial yang kuat.
Hal ini, menurutnya, juga sejalan dengan pandangan psikolog perkembangan Sabina Spielrein yang menilai bahwa jiwa perempuan berkembang melalui relasi dan empati terhadap orang lain.
Selain itu, Ning Lia juga menyinggung perubahan standar kecantikan perempuan dari masa ke masa. Ia menyebut, standar kecantikan kerap dipengaruhi oleh budaya dan tren sosial, mulai dari peradaban Yunani kuno hingga era modern yang dipengaruhi media sosial dan budaya populer seperti Korean Wave.
Karena itu, ia menilai kecantikan perempuan tidak semestinya hanya diukur dari penampilan fisik, tetapi juga dari kualitas diri.
“Perempuan tidak cukup hanya memiliki outer beauty, tetapi juga harus memiliki inner beauty berupa kecerdasan, karakter, dan kemampuan berkomunikasi,” jelasnya.
Keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut juga mengingatkan agar perempuan tidak saling menjatuhkan hanya karena standar kecantikan. Sebaliknya, perempuan perlu saling mendukung serta fokus pada pengembangan kapasitas diri.
Dalam kesempatan itu, Lia juga memperkenalkan konsep kepemimpinan perempuan melalui akronim PEREMPUAN, yakni Personality, Empathy, Responsibility, Equity, Motivation, Positivity, Universal, Analytical, dan Negotiation.
Selain itu, ia juga mendorong perempuan membangun karakter melalui nilai KARTINI, yang terdiri dari Kindness, Adaptation, Respect, Toughness, Intelligence, Negotiation, dan Integrity.
Nilai-nilai tersebut, menurutnya, penting agar perempuan mampu tampil sebagai pemimpin yang berintegritas sekaligus berdaya saing.
Ning Lia juga mengangkat semangat perjuangan Raden Ajeng Kartini yang mendorong perempuan untuk berani bermimpi, berpikir maju, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Ia menambahkan, perempuan modern harus memiliki keberanian untuk berbicara serta mengambil peran dalam ruang publik.
“Perempuan harus berani berbicara, berani berkontribusi, dan tidak takut mengambil tanggung jawab sebagai pemimpin,” tegasnya.
Berdasarkan data yang ia paparkan, jumlah pemilih perempuan di Jawa Timur pada Pemilu 2024 lebih banyak dibandingkan laki-laki dari total lebih dari 31 juta pemilih. Namun demikian, keterwakilan perempuan dalam politik masih belum seimbang.
Karena itu, Lia mendorong perempuan untuk meningkatkan partisipasi dalam kepemimpinan dan pengambilan keputusan publik.
“Perempuan harus mulai mengaktualisasikan diri sebagai calon pemimpin, bukan hanya menjadi pengikut,” ujarnya.
Dalam sesi dialog menjelang berbuka puasa, Ning Lia juga berbagi pengalamannya terkait tantangan kepemimpinan perempuan yang kerap dihadapkan pada dilema antara bersikap lembut atau tegas.
Menurutnya, perempuan perlu menjaga keseimbangan antara empati dan ketegasan agar kepemimpinan tetap dihormati tanpa menimbulkan rasa takut.
“Leadership itu bukan soal posisi, tetapi aksi. Kepemimpinan adalah tindakan nyata yang membuat orang mengikuti kita karena percaya, bukan karena takut,” pungkasnya.
