Ironi di Kota Pahlawan : Rawat 4 Cucu, Lansia Ini Tak Diakui Miskin


SURABAYA ( KABAR SURABAYA) – Keprihatinan kembali mencuat di Kota Pahlawan. DPRD Kota Surabaya menemukan seorang lansia yang merawat empat cucu dan satu anaknya dalam kondisi ekonomi memprihatinkan, namun tidak terdaftar sebagai warga miskin dalam sistem pemerintah.


Temuan itu terjadi saat Anggota Komisi D DPRD Surabaya, Imam Syafi’i, meninjau langsung rumah Siti Sumiati (60) di kawasan Jalan Gresik, Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Sabtu (15/2/2026).


Rumah berukuran sekitar 3×5 meter tersebut tampak seperti ruko kecil dengan pintu rolling door. Di dalamnya terdapat kasur, lemari pakaian, meja sederhana, serta kamar mandi di bagian belakang. Meski berlantai keramik, kondisinya tampak kurang terawat.


Hidupi 4 Cucu dengan Rp50 Ribu per 3 Hari


Sumiati tinggal bersama anak laki-lakinya yang menganggur dan empat cucunya yang masih usia sekolah dan balita. Penghasilan keluarga hanya mengandalkan kiriman dari anak perempuannya sebesar Rp50 ribu setiap tiga hari, ditambah bantuan makanan dari tetangga.

Ironisnya, saat Nomor Induk Kependudukan (NIK) dicek melalui sistem data keluarga miskin milik Pemkot Surabaya, nama Sumiati tidak terdaftar.

Menurut Imam, kondisi ini menunjukkan bahwa parameter kemiskinan yang digunakan masih terlalu administratif dan belum sepenuhnya mencerminkan realitas di lapangan.


“Penentuan miskin jangan hanya administratif, tapi substantif. Kalau pendapatan dan pengeluaran jomplang, itu harus segera diintervensi,” tegasnya.

Kritik Skema Desil dan Dorong Diskresi

Imam juga menyoroti penggunaan kategori desil 1–5 sebagai dasar pemberian bantuan sosial yang dinilai belum mampu menangkap fenomena “kemiskinan baru” akibat faktor ekonomi mendadak, seperti usaha bangkrut atau kepala keluarga meninggal.

Ia mendorong Pemkot Surabaya berani melakukan diskresi ketika menemukan kasus yang secara faktual membutuhkan intervensi segera.
Selain bantuan sosial reguler, ia juga membuka opsi kolaborasi dengan CSR perusahaan maupun Baznas untuk membantu keluarga seperti Sumiati.

Harapan Bantuan dan Pendidikan Cucu

Sumiati berharap pemerintah dapat memberikan bantuan agar kebutuhan dasar keluarga terpenuhi dan cucu-cucunya tetap bisa bersekolah.

Ia juga berharap anak laki-lakinya bisa segera mendapat pekerjaan tetap.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di tengah geliat pembangunan Kota Surabaya, masih ada warga yang luput dari jaring pengaman sosial akibat ketidaksesuaian data administratif dengan kondisi nyata di lapangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *